Friday, March 23, 2012

MoMA Class @ America | Module 2: Klimt & Symbolism

Ini adalah panduan "belajar sendiri" untuk #MoMAClass di @america, modul ke-dua, 24 Maret 2012. 


Kuliah Sejarah Seni Rupa Barat - Symbolism/Simbolisme 
oleh Larissa Bailiff 



Simbolisme adalah gerakan dalam seni visual dan kesusastraan yang berlangsung sejak 1870an hingga sekitar 1920an, yang menentang perkembangan Akademisme dan Naturalisme yang berlaku pada saat itu, dan berpaling pada suatu kepekaan yang jauh lebih subyektif, yang didasarkan pada keadaan dalam benak mereka sendiri, dibanding hubungan ke luar pada realitas atau kenyataan alami. 

Perupa yang mengusung Simbolisme datang dari pelbagai penjuru Eropa. Tokoh-tokoh utamanya di antaranya: 
- James Ensor (Belgia), 
- Edvard Munch (Norwegia), 
- Odilion Redon & Henri Rousseau (Perancis), 
- Gustav Klimt (Austria) 

1. European Map


Kita dapat "menyelam" ke dalam Simbolisme melalui karya 

2. Gustav Klimt, Blood of Fishes, 1898,
pertama-tama dicetak dalam majalah seni Ver Sacrum
Karya ini memperlihatkan keadaan misterius yang mirip mimpi. Kita dapat bertanya, di manakah sebenarnya kita berada dalam pengalaman dalam air ini? Figur-figur telanjang yang tererotisasi, bentuk-bentuknya tersusun bergelombang, mengikuti dan seakan "berpantun" dengan garis-garis melengkung yang merepresentasi air. Apa sebenarnya peran ikan yang tampak terlalu besar dalam lukisan itu, apakah ia menggantikan voyeur pria, yang menonton untuk kenikmatan seksualnya? Kisah apa yang mendasari lukisan ini? Sepertinya lukisan ini merupakan suatu upaya untuk membangkitkan imajinasi secara puitis, suatu alasan untuk menampilkan figur-figur perempuan.


Untuk mengetaui permulaan dari Simbolisme, marilah kita tengok ke karya pelukis Perancis ini:

3. Gustave Moreau, Apparition, 1876, Musee d'Orsay
Simak karyanya di website Musée d'Orsay ow.ly/9NNKk

Karya ini mengusung subyek atau tema yang dianggap menarik oleh para Simbolis. Diambil dari Injil, karya ini memperlihatkan Salome menunjuk secara provokatif sekaligus bangga pada kepala terpancung dari Santo Yohannes Pembaptis. yang menggambang dan berkilau, dan dari kepalanya menetes darah merah segar. Moreau menonjolkan permukaan yang berkilau, locale atau setting yang eksotik, nada-nada perhiasan yang terpasang, bukan hanya pada pakaian Salome. Kita melihat di sini apa yang disebut sebagai femme fatale, figur perempuan yang perayu yang berbahaya dari perioda fin de siecle ("akhir abad" ke-19). Citra dan subyek seperti ini, dengan campuran dari kandungan erotisnya, yang merangsang, dan mengerikan sangat menarik bagi para Simbolis.




Penyair Simbolis


Simbolisme merupakan gerakan di bidang seni rupa dan seni sastra. Para penyair Simbolis, di antaranya: Stéphane Mallarmé, Paul-Marie Verlaine Arthur Rimbaud. Semangat mereka dekat dengan para perupa. 


4. Edouard Manet, Stephane Mallarme, 1876, Musee d'Orsay



Sintax (tata kata dalam kalimat) dalam karya Mallarmé, tidak beraturan dan anti-akademis: sangat evokatif, misterius, datang dari dalam benaknya, ketimbang beraturan dan deskriptif. Kadang-kadang, kata-katanya tercecer pada keseluruhan halaman, dan dimaksudkan untuk dialami secara visual selain dibaca dan dipahami.  

5. Split Screen: Felix Vallotton, Portrait of Jean Moreas, late 1880, dan publikasi Tract of Symbolism dari tahun yang sama


Simbolisme didukung oleh beberapa kritikus, termasuk Jean Moreas, yang pertama melontarkan istilah Simbolisme, dan banyak menulis tentang Simbolisme, misalnya dalam Les Premieres Armes du Symbolisme (1889). Juga ada publikasi berkala La Revue Blanche yang diterbitkan di Paris, yang menampilkan karya-karya seni, puisi dan musik Simbolis. 





James Ensor


6. James Ensor, Self-Portrait with Masks, 1899, Menard Art Museum
James Ensor, pemimpin avant-garde Belgia yang potret dirinya ditampilkan di sini, pada awal tahun 1880an mendirikan kelompok Le Vingt, "Kelompok Dua Puluh", kelompok perupa dan penyair, yang tertarik pada perkembangan dunia internasional dan berminat untuk memoderenisasikan seni.
Karya ini dibuat berdasarkan karya lain yang dibuatnya sepuluh tahun sebelumnya. Paling tidak mukanya tampil sama, ia mengenakan sebuah topi yang mirip, terbuat dari bludru merah dengan bunga dan bulu yang mirip. Tapi ia menekankan citra dirinya, hampir seperti sebuah kolase, di tengah-tengah suatu ruang yang sempit dan klaustrofobik yang dipenuhi topeng-topeng dan tengkorak-tengkorak yang seram dan mengerikan, yang menatap ke arah kita secara aneh. Apa maksud dari pengalaman misterius irasional ini, dan bagaimana itu mempengaruhi pemahaman kita tentang sosok James Ensor?


Ia membuat beberapa potret diri. Salah satunya yang berikut ini:

7. James Ensor, The Pisser, 1886, Coll. Thomas and Lore Firman


yang memperlihatkan dirinya sedang mengencingi sebuah dinding. Yang lain memperlihatkan dirinya sebagai seekor serangga atau sesosok hantu yang tampil dari perapian.


Potret dirinya dengan topeng-topeng tidak kurang aneh.
Walau pun Ensor adalah pemimpin Les Vingts, tidak lama kemudian ia dikucilkan oleh kelompok itu. Rekan-rekannya yang tidak memahami kebutuhannya akan eksperimentasi, keanehan subyek-subyek lukisannya, dan kecintaannya pada menggambar. Semakin ia merasa tak dipahami dan semakin terhukum, karya seninya menjadi semakin aneh. Ia menekankan subyek-subyeknya, ia gunakan warna-warna yang tidak alami dan mengganggu, ia mengolah permukaan karyanya sehingga mendapatkan efek yang lebih kusam. 


Tak seorang pun kebal terhadap pensil atau pun kuas lukis milik Ensor. Ia bukan hanya membuat potret aneh dari dirinya sendiri, ingin membebaskan diri dari batasan-batasan, menunjukkan betapa gilanya ia bisa menjadi, tapi ia mengalihkan serangannya pada kemapanan di berbagai bidang, melawan agama, pemerintah Belgia, akademi musik, bahkan akademi seni rupa. 

8. James Ensor, Dangerous Cooks, 1896, Private Coll.
Dalam karya ini, ia membentengi dirinya dari kecaman para kritikus terhadapnya, serta juga para rekan-rekannya di Les Vingts yang tidak memahami karya seninya. Karya ini mengerikan dan menyeramkan. 
Warna-warna yang digunakannya, warna-warna kehijauan dan kemerahan,  menggetarkan, tidak alami dan mengganggu. Di latar belakang, para kritikus telah menunggu, lapar dan tidak dapat terpuaskan, sementara beberapa sudah tampak muntah-muntah di atas meja. Di depan, para pramusaji mempersiapkan para martir. Dari langit-langit, tergantung bagai seekor ayam, tampak Anna Boch, seorang pelukis dan satu-satunya karya yang dijual oleh Van Gogh. Juga ada beberapa kepala dari tokoh-tokoh dunia seni yang bakal dikenali oleh orang pada masa itu. Di tengah-tengah lukisan, mengambil tempat yang penting, piece de resistance-nya, hidangan utamanya, adalah kepala Ensor sendiri, tersaji seperti kepala Santo Yohannes Pembaptis, yang kita ingat adalah subyek yang khas dari karya Simbolis. Kepala itu diletakkan pada ikan Hering yang diacarkan, yang namanya dalam bahasa lokal mirip dengan namanya dan sering digunakannya dalam permainan kata-kata (pun). Ia sedang dipersiapkan untuk dihidangkan pada para kritikus, yang menanti dengan ganas. Ia menampilkan para seniman sebagai martir, sementara ia memerperlihatkan para kritikus sebagai orang yang senang menggunakan kekerasa, agresif dan vulgar. Ini hanya salah satu dari kecamannya terhadap masyarakat dan apa yang dianggapnya merupakan masalah di dalamnya. 




Edvard Munch


Karya-karya Edvard Munch merupakan contoh terutama dari Simbolisme, tapi bukan dalam karya berikut ini, namun menarik untuk melihat betapa jauh perjalanannya: 

9. Edvard Munch, Morning, 1884, Rasmus Meyer Samlinger, Bergen Kunstmuseum


 Karya ini menampilkan sesosok perempuan dalam gaya yang naturalistik hampir impresionistik. Kamarnya diterangi cahaya matahari pagi. Subyeknya domestik, tentang kehidupan rumah tangga sehari-hari, tema yang cukup moderen. Karya ini ditampilkan di Anjungan Norwegia di Pameran Dunia World's Fair di Paris tahun 1889. Tapi yang lebih penting bagi kita, adalah kenyataan bahwa pada tahun itu, Edvard Munch menjadi terekspos pada Toulouse-Lautrec, Paul Gauguin dan Van Gogh, dan karya mereka dengan pewarnaan yang kuat dan hidup, dan bentuk-bentuk yang bergelombong dan ekspresif. Hal ini membuat Munch menjadi untuk selanjutnya berubah. Ia meninggalkan Paris sebagai seorang perupa moderen. 


10 Edvard Munch, The Scream, 1893, National Gallery, Oslo
Kita mungkin cukup mengenal karya ini, yang dibuat Munch dalam beberapa versi pada tahun itu. Pada awalnya karya ini dimulai sebagai suatu potret diri yang cukup naturalistik, tapi menjadi semakin ekstrim: keadaan yang seperti suatu khayalan atau halusinasi, yang penuh citra, langit yang berwarna merah darah, bentuk-bentuk tak alami yang bergelombang-gelombang, perspektif yang mengejutkan pada jembatan yang seakan terdorong ke latar belakang, sejajar fyord (teluk yang terbentuk karena kegiatan glasial). Ia telah menjadi makhluk yang menyerupai monster. Bahkan mukanya didasarkan pada mumi dari Peru yang dilihatnya ketika menetap di Paris tahun 1889. Ekpresif, gelisah, emosional, ini adalah tentang keadaan psikis manusia dalam keputusasaan, dan sebenarnya Munch mulanya memberi judul pada karya ini: "Despair" berdasarkan suatu kisah cinta yang gagal, tapi lebih luas daripada hanya sekedar putus cinta dengan seorang pacar.  Dalam karya ini ia menjelajahi siklus kehidupan, tema cinta dan ketersiksaan manusia karenanya, yang dialaminya sepanjang karirnya. 



11. Edvard Munch, The Vampire, 1895, MoMA

Antagonisme antar jenis kelamin, ketakutan pada perempuan tentunya terkemukakan dalam karya litografi ini. Munch cukup eksperimental dalam penggunaan medianya. Pada karya ini kita lihat sekali lagi garis-garis yang gelisah, dan energinya. Sosok perempuannya seakan menyantap figur laki-laki dibawahnya, ketika mereka berpelukan. Rambutnya terurai seperti tentakel-tentakel, misterius, evokatif dan mengerikan, sekaligus. Ini bukanlah suatu citra yang menggembirakan tentang cinta. 






Odilion Redon 


Odilion Redon adalah seorang perupa Perancis yang menelusuri jalannya sendiri. Ia tidak mencapai keberhasilan langsung, tapi ia dihormati di beberapa kalangan perupa. Bahkan, ia ikut berpameran pada Pameran Impresionis yang terakhir tahun 1886, walau karya-karyanya jelas tidak Impresionis. Malah karya-karyanya itu Simbolis dalam daya evokasinya dan keterkaitannya pada sastra.  

12. Odilon Redon, The Eye Like a Strange Balloon Mounts Towards Infinity, 1882, MoMA
Ini adalah sebuah karya yang dibuat berdasarkan karya Edgar Allan Poe, penyair favorit para Simbolis. Kebanyakan karyanya pada masa ini dibuatnya dengan warna hitam, apakah itu litografi, atau menggunakan crayon Conte, atau arang charcoal. Dan ia dapat menggarap les noirs, warna-warna hitam itu, berbeda dari para perupa yang lain, menciptakan bayang-bayang, evokasi, kedalaman ruang, bahkan ketegangan dan misteri. Ia terpengaruh oleh hal-hal seperti Teori Evolusi Darwin yang menddorong mentalités (kelompok elit masyarakat yang berpikiran sama) Perancis untuk berpikir tentang monster, evolusi, metamorfosis, dalam cara yang baru tapi gelap. Karya ini mengerikan sekaligus menggelikan. Tampak bola mata yang menatap ke langit, ke surga, mengingatkan kita pada perihal Ascension, Kenaikan, dan mengambang atau bahkan menerawang. Juga tampak kepala yang terpancung, yang seolah sedang mengendarai bola mata itu sebagai suatu balon udara. Tanam-tamanan dibiarkan di bawah, pada cakrawala yang sangat rendah. Apa yang dimaksudkan oleh perupanya? Banyak karya Redon mengilustrasikan puisi dan karya sastra dari masa itu atau bahkan dari Zaman Pertengahan. 


Ia berkembang dengan citra-citra misterius, seperti monster, menyeramkan, sekaligus mengandung humor, yg dinamakannya les noirs (hitam) untuk beberapa dekade lamanya. Tapi pada tahun 1895, ia mulai menggunakan warna secara lebih banyak: pastel, crayon, cat minyak, cat air, merangkul nada-nada yang tampak seperti perhiasan, lebih menggetarkan dan penuh citra daripada apa pun yang muncul di Paris. 


13. Odilon Redon, Roger and Angelica, 1910, MoMA
Karya yang dibuat menggunakan pastel dan kertas ini memperlihatkan teman Zaman Pertengah dari seorang ksatria yang datang untuk menyelamatkan seorang putri yang ada dalam keadaan marabahaya. Ksatria itu datang terbang mengendarai kuda bersayap seperti Pegasus. Tubuh Angelica tampak berkelok, terikat pada bongkahan batu. Tapi sulit untuk melihat bentuk perempuan itu atau pun sosok Roger, subyek nyata dalam karya itu. Bahkan sang naga dalam karya ini yang, dilukiskan sangat kecil, kalau pun bisa ditemukan, hanya dihadirkan seadanya. Sebaliknya, Redon merayakan warna-warna, pengalaman, atas nafas naga itu yang tampak penuh busa, yang tampak menyebar ke mana-mana lalu memudar, dalam lingkungan penuh citra ini.  





Henri Rousseau


Karya Henri Rouseeau, perupa otodidak Perancis, adalah seunik karya para Simbolis yang lain. Ia menghadirkan sudut pandangnya sendiri atas hal itu. 

14. Henri Rousseau, The Sleeping Gypsy, 1897, MoMA
Karya ini adalah suatu karya yang sangat besar dan penting, dan mungkin tidak terlalu menyeramkan dibanding karya-karya Redon, tapi mungkin juga tidak begitu adanya. Dengan bulan di langit agak sulit untuk menentukan apakah lukisan itu menggambarkan siang atau malam. Seorang gipsi tertidur di pasir, apakah ia di pasir, apakah itu aliran sungai di belakangnya? Sulit untuk dipastikan. Kita tidak tau di mana kita berada, dan Rousseau tidak pernah mengijinkan kita untuk mendapatkan semua jawaban pertanyaan itu. Tapi karya itu evokatif dan eksotik, sebagaimana figur gipsi itu sendiri. Dari mana dia datang, mengapa dia tidur di sana. Dia berada dalam suatu keadaan bermimpi. Peralatan musik lute ada di sebelahnya, sebuah wadah air diletakkan berdiri tegak, vertikal, mengimbangi elemen-elemen yang kebanyakan horizontal: bukit-bukit, figur, dataran tanahnya, singanya. Singanya sendiri, dilukiskan Rousseau menggunakan contoh dari patung pertengahan abad ke-19 yang pernah dilihatnya di Paris. Dan penting untuk digarisbawahi bahwa ia tidak pernah meninggalkan Paris. Jadi semua dalam karyanya itu datang dari khayalan, atau melihat karya seni yang lain, atau dari kartu pos, atau membaca kisah dari petualang yang bepergian menjelajah dunia, dan ia menggabungkan semua itu dalam sebuah pastiche atau bisa dibilang kolase berdasarkan karya seni lain yg lebih tua), suatu citra dari keadaan seperti mimpi yang dikhayalkan, sebagaimana gipsi itu sendiri telah terbuai dalam tidur. Mungkin ia malah sedang bermimpi tentang singa itu yang tidak ganas atau mengerikan tapi mendekat mendatanginya, dengan puitis dan halus, dalam mimpi itu. 


Para surrealis tahun 1920an dan 1930an akan mencintai Rousseau karena karyanya yang membangkitkan keadaan yang tidak sadar seperti ini. dunia terkesan halus dan terlalu sempurna, yang mengambang seperti ini, dengan penempatan  dunia yang satu dengan yang lain yang tidak sesuai apalagi harmonis secara berdampingan, serta puisi yang terkesan begitu indah. 





Gustav Klimt 


Kini kita kembali ke karya seni Gustav Klimt 


15. Gustav Klimt, Hygeia, a detail, from Medicine, destroyed in 1945
Dalam karya ini kita lihat bagaimana ia merangkul hal yang misterius dan sensual. Karya itu lebih cenderung tentang figur perempuan cantik, dengan seekor ular melingkar, berkelok-kelok, seirama dengan pola-pola hiasan pada pakaiannya, berupaya mencapai wadah yang dipegang oleh perempuan itu. Karya ini ritualistik dan seremonial. Simaklah hiasan gelung yang yang ada pada kepalanya. Adanya sosok lain yang misterius di belakangnya membuat sulit memahami hubungan antara figur dan ruang. Apakah ada figur-figur lain yang muncul di situ. Lukisan itu menghantui dan membangkitkan ingatan/khayalan, cair, seperti mimpi.  

16. Moriz Naehr, Photo of Gustav Klimt at his Studio, 1912, Getty Museum
Walau pun biasanya tampak perlente dan gagah, dalam foto ini Klimt tampak mengenakan baju kerjanya, sejenis kaftan, yang memang sering digunakannya ketika melukis, dan kadang-kadang juga ketika jalan-jalan ke kota. 

17. Split: Gustav Klimt, Burgtheater, 1886-87, Historical Museum of the City of Vienna and Gustav Klimt, Dionysus, New Burgtheater, 1889


Sangat penting bagi kita untuk mengetahui gaya awal dari Klimt. Ketika ia mulai melukis, gayanya dapat dihubungkan dengan tradisi Beaux-Arts, dengan kehalusan dan kesempurnaan akademisnya, dengan subyeknya yang dapat dengan mudah dikenali. Kita dapat bedakan figur yang dilukisnya dari latar belakangnya. Kita dapat mengetahui apa yang kita lihat dan dari mana kisah-kisah itu berasal. 


Namun setelah awal tahun 1890an, subyek dan gayanya telah berubah. Ia telah beralih pada suatu pendekatan yang evokatif, radikal, misterius, dan berpaling ke dalam dirinya. 

18. Gustav Klimt, Danae, 1907, Private Coll., Graz
Figur dalam karya yang tampak terkompresi, tertekan dalam bentuk bujur sangkar ini, tampak seolah mengancam untuk "meledak" ke luar, walau pun ia terserap masuk ke dalam dan menutup dirinya sendiri, Danae, figur mitologis yang di hujani oleh Zeus dengan mengubah dirinya menjadi serpihan emas. Ia sedang mengalami saat yang erotis, mengalami kenikmatannya, ekstasinya, dan mengalihkannya ke dalam dirinya sendiri. Klimt telah menghiasi seluruh permukaan: kita melihat berbagai dekorasi, cerminan emas, berjalinan dengan untaian cantik dari rambut merah figur itu. Karya ini merupakan karya yang indah, yang sensual, yang berasal dari dalam benak perupanya: dan  mengandung secara sempurna karakter utama dari Simbolisme. 




Di Galeri-galeri MoMA, 
dibawakan oleh Debbie Golberg & Larrissa Bailiff 

1. Gustav Klimt. Hope II. 1907-8 
Simak karya ini di galeri on-line MoMA: http://ow.ly/9Kfve 

2. Henri Rousseau. The Dream. 1910 
Simak karya ini di galeri on-line MoMA: http://ow.ly/9PExV


3. James Ensor. Masks Confronting Death. 1888
Simak karya ini di galeri on-line MoMA: http://ow.ly/9KgBR


4. Edvard Munch. The Storm. 1893
Simak karya ini di galeri on-line MoMA: http://ow.ly/9Kh0E 





-------------------------------------------------

Rangkuman



Simbolisme
• Simbolisme adalah gerakan dalam seni visual dan kesusastraan yang berlangsung sejak 1870an hingga sekitar 1920an. 
Gerakan itu menentang perkembangan Akademisme dan Naturalisme yang berlaku pada saat itu. 


Para perupanya yg datang dari pelbagai penjuru Eropa. 
       - James Ensor (Belgia), 
       - Edvard Munch (Norwegia), 
       - Odilion Redon & Henri Rousseau (Perancis), 
       - Gustav Klimt (Austria) 
dengan ciri:
       - berpaling pada suatu kepekaan subyektif yang didasarkan pada keadaan psikis dari dalam benak 
         mereka sendiri, 
       - evokatif (membangkitkan khayalan atau kenangan), misterius, 
       - dibanding memperlihatkan hubungan ke luar pada realitas atau kenyataan alami, 
         dengan beraturan dan deskriptif




• Gustave Moreau, Apparition, 1876, Musee d'Orsay 
Karya ini menampilkan subyek atau tema yang dianggap menarik oleh para Simbolis: 
- Setelah menari untuk Ayah tirinya, Herodus, ia ditawarkan imbalan, apa saja yang diinginkannya, dan atas arahan Ibunya, Salome meminta kepala Santo Yohannes Pembaptis, yang telah mengecam pernikah insestius antara Herodias dan Herodus. 
- Tema ini menarik bagi para simbolis, karena Salome menjadi simbol dari femme fatale, figur perempuan yang perayu yang berbahaya. 
- dan kepala Yohannes Pembaptis yg terpancung juga menjadi lambang atas pengorbanan manusia karena tindakan yang bodoh dan sembarangan dari femme fatale dan penguasa yang melakukan apa saja yang diperlukan agar tidak dipermalukan. 


Sastra Simbolis
• Simbolisme merupakan gerakan di bidang seni rupa dan seni sastra. Para penyair Simbolis, di antaranya: Stéphane Mallarmé, Paul-Marie Verlaine Arthur Rimbaud. Semangat mereka dekat dengan para perupa. 
• Sintaks (tata kata dalam kalimat) dalam sastra Simbolis, tidak beraturan dan anti-akademis: sangat evokatif (membangkitkan kenangan atau khayalan), misterius, datang dari dalam benaknya, ketimbang beraturan dan deskriptif. Kadang-kadang, kata-katanya tercecer pada keseluruhan halaman, dan dimaksudkan untuk dialami secara visual selain dibaca dan dipahami.  




James Ensor
6. James Ensor, Self-Portrait with Masks, 1899, Menard Art Museum
James Ensor, pemimpin avant-garde Belgia, pada awal tahun 1880an mendirikan kelompok Le Vingt, "Kelompok Dua Puluh", kelompok perupa dan penyair, yang tertarik pada perkembangan dunia internasional dan berminat untuk memoderenisasikan seni. Walau pun Ensor adalah pemimpin Les Vingts, tidak lama kemudian ia dikucilkan oleh kelompok itu, terutama oleh rekan-rekannya yang tidak memahami kebutuhannya akan eksperimentasi, keanehan subyek-subyek lukisannya, dan kecintaannya pada menggambar. Semakin ia merasa tak dipahami dan semakin terhukum, karya seninya menjadi semakin aneh. Ia menekankan subyek-subyeknya, ia gunakan warna-warna yang tidak alami dan mengganggu, ia mengolah permukaan karyanya sehingga mendapatkan efek yang lebih kusam. 


8. James Ensor, Dangerous Cooks, 1896, Private Coll.
Tak seorang pun kebal terhadap pensil atau pun kuas lukis milik Ensor. Ia bukan hanya membuat potret aneh dari dirinya sendiri, ingin membebaskan diri dari batasan-batasan, menunjukkan betapa gilanya ia bisa menjadi, tapi ia mengalihkan serangannya pada kemapanan di berbagai bidang, melawan agama, pemerintah Belgia, akademi musik, bahkan akademi seni rupa. 
Dalam karya ini, ia membentengi dirinya dari kecaman para kritikus terhadapnya, serta juga para rekan-rekannya di Les Vingts yang tidak memahami karya seninya. Karya ini mengerikan dan menyeramkan. Ia menampilkan para seniman sebagai martir, sementara ia memerperlihatkan para kritikus sebagai orang yang senang menggunakan kekerasa, agresif dan vulgar. Ini hanya salah satu dari kecamannya terhadap masyarakat dan apa yang dianggapnya merupakan masalah di dalamnya. 




Edvard Munch
10 Edvard Munch, The Scream, 1893, National Gallery, Oslo
Setelah kembali dari Paris, ketika karyanya dipamerkan di Pameran Dunia tahun 1889, Edvard Munch telah terekspos pada karya Toulouse-Lautrec, Paul Gauguin dan Van Gogh, dan karya mereka dengan pewarnaan yang kuat dan hidup, dan bentuk-bentuk yang bergelombong dan ekspresif, dan semenjak itu Munch telah menjadi perupa moderen. 


Karya The Scream: 
- menampilkan potret dirinya yang sedang atau ingin berteriak,
- dalam keadaan seperti khayalan atau halusinasi, 
- langit yang berwarna merah darah, 
- bentuk-bentuk tak alami yang bergelombang-gelombang, seakan menggaungkan teriakannya ke pelbagai penjuru.
Ekpresif, gelisah, emosional, ini adalah tentang keadaan psikis manusia dalam keputusasaan, tapi lebih luas daripada hanya sekedar putus cinta dengan seorang pacar.  Dalam karya ini ia menjelajahi siklus kehidupan, tema cinta dan ketersiksaan manusia karenanya, yang dialaminya sepanjang karirnya. 




Odilion Redon 
12. Odilon Redon, The Eye Like a Strange Balloon Mounts Towards Infinity, 1882, MoMA
Karya-karya Odilion Redon Simbolis dalam daya evokasinya dan keterkaitannya pada sastra. Ini adalah sebuah karya yang dibuat berdasarkan karya Edgar Allan Poe, penyair favorit para Simbolis. Kebanyakan karyanya pada masa ini dibuatnya dengan warna hitam, les noirs, warna-warna hitam itu, untuk menciptakan bayang-bayang, evokasi, kedalaman ruang, bahkan ketegangan dan misteri.


13. Odilon Redon, Roger and Angelica, 1910, MoMA
Mulai tahun 1895, ia mulai menggunakan warna secara lebih banyak: pastel, crayon, cat minyak, cat air, merangkul nada-nada yang tampak seperti perhiasan, lebih menggetarkan dan penuh citra daripada apa pun yang muncul di Paris. Dalam karya ini, Redon merayakan warna-warna, pengalaman, ketimbang memperlihatkan bentuk-bentuk figur-figur yang menjadi subyek lukisannya secara deskriptif.  




Henri Rousseau
14. Henri Rousseau, The Sleeping Gypsy, 1897, MoMA
Karya ini, yang melukiskan seorang gipsi sedang tidur, di tempat yang tidak jelas keberadaannya, merupakan karya yang evokatif dan eksotik, misterius dan ambigu. Walau pun lukisan ini seperti mengambarkan setting gurun, mungkin di Afrika, penting untuk digarisbawahi bahwa perupanya tidak pernah meninggalkan Paris. Jadi semua dalam karyanya itu datang dari khayalan, dari karya seni yang lain, dari kartu pos, atau membaca kisah dari petualang yang bepergian menjelajah dunia, dan ia menggabungkan semua itu dalam sebuah pastiche atau sejenis kolase. Yang ditampilkan mungkin suatu citra dari keadaan seperti mimpi yang dikhayalkan, atau mungkin malah mimpi sang gipsi tentang singa yang menghampirinya. Karya ini memperlihatkan ciri karya Simbolis, yang indah dan puitis, menggambarkan suatu yang keluar dari benak perasaan yang terdalam dari si perupa. 




Gustav Klimt 
Setelah awal tahun 1890an, subyek dan gayanya telah berubah. Ia telah beralih pada suatu pendekatan yang evokatif, radikal, misterius, dan berpaling ke dalam dirinya. 


Dalam karya Hygeia, kita lihat bagaimana ia merangkul hal yang misterius dan sensual. Karya ini ritualistik dan seremonial. Lukisan itu menghantui dan membangkitkan ingatan/khayalan, cair, seperti mimpi.  


Pada karya Danae Klimt telah menghiasi seluruh permukaan: kita melihat berbagai dekorasi, cerminan emas, berjalinan dengan untaian cantik dari rambut merah figur itu. Karya ini merupakan karya yang indah, yang sensual, yang berasal dari dalam benak perupanya: dan  mengandung secara sempurna karakter utama dari Simbolisme. 






Ciri 


Persamaan 
Karya seni rupa Simbolis
- berpaling pada suatu kepekaan subyektif yang didasarkan pada keadaan psikis dari dalam benak mereka sendiri, 
- evokatif (membangkitkan khayalan atau kenangan), misterius, 
- dibanding memperlihatkan hubungan ke luar pada realitas atau kenyataan alami, dengan beraturan dan deskriptif




Perbedaan 


Ensor
- subyeknya biasanya merupakan serangan atas kemapanan di berbagai bidang, melawan agama, pemerintah Belgia, akademi musik, bahkan akademi seni rupa, juga tidak luput: rekan-rekannya, sesama anggota Les Vingts yang tidak memahaminya. 
- menggunakan warna-warna yang tidak alami dan mengganggu, dan mengolah permukaan karyanya sehingga mendapatkan efek yang lebih kusam. 


Munch
- sering melukiskan keadaan psikis manusia dalam keputusasaan, tapi lebih luas daripada hanya sekedar putus cinta dengan seorang pacar, ia menjelajahi siklus kehidupan, tema cinta dan kesengaraan manusia karenanya, yang dialaminya sepanjang hidupnya. 
- ia menggunakan warna-warna, garis-garis dan bentuk-bentuk tak alami bahkan menghantui untuk mengemukakan keadaan psikis itu, dan menekankan kekuatannya. 


Odilion Redon 
- sering sekali menghadirkan karya yang menginterpretasikan puisi Simbolis atau Jaman Pertengahan. 
- ia kerap menggunakan les noirs, warna-warna hitam itu, untuk menciptakan bayang-bayang, evokasi, kedalaman ruang, bahkan ketegangan dan misteri.
- setelah tahun 1895, ia mulai menggunakan warna yang tidak digunakannya untuk membentuk wujud secara deskriptif, tapi untuk tujuan perayaan yang membangkitkan khayalan. 


Rousseau 
- sering melukiskan suatu kisah manusia dalam lingkungan alam yang tertata rapi, seperti khayalan yang mirip mimpi, seperti ilustrasi buku anak-anak. 
- penggambarannya seperti suatu kolase atau pastiche dari bentuk-bentuk yang ditata dengan rapi dan jelas, hampir sempurna, namun tetap tidak nyata. 




Perbandingan: 


Coba bandingkan 
         Edvard Munch, The Vampire, 1895, MoMA  dengan Gustav Klimt, The Kiss, 1907-8 


Apa persamaan dan perbedaan Pasca-Impresionisme dan Simbolisme? 
       - Dua-duanya tidak lagi menggambarkan impresi atau kesan dari dunia nyata secara optis, 
       - tapi sudah beralih ke suat ekspresi yang melampaui kenyataan  
       - Lukisan-lukisan Pasca-Impresionisme menggabungkan dunia nyata dengan khayalan 
       - sedang lukisan Simbolis mengemukakan apa yang ada dalam benak perupa, 
         seringkali melalui wujud-wujud misterius, menghantui, atau citra yang mirip mimpi. 




No comments:

Post a Comment